Kepercayaan dan Takhayul angka 13

Posted: September 14, 2013 in Tokoh, Sejarah & Budaya
Lukisan Perjamuan TerakhirLukisan yang menampilkan Perjamuan Terakhir, di mana tamu ke-13nya adalah Yudas yang mengkhianti Yesus. (Brooklyn Museum/Corbis)
Tamu ke-13 yang hadir dalam Perjamuan Terakhir membawa petaka, sehingga apapun yang berhubungan dengan angka 13 dikaitkan dengan nasib buruk.
Hari Jumat yang tepat jatuh pada tanggal 13, seperti hari ini, Jumat (13/9), dianggap sebagian orang sebagai hari sial. Mereka mengidentikkan hari tersebut sebagai hari yang penuh bencana, baik bagi personal maupun global. Semisal, pasar saham yang jatuh, cedera, kecelakaan, bahkan Perang Dunia III.

Takhayul tersebut menciptakan rasa ketakutan tersendiri bagi sebagian orang menghadapi Jumat tanggal 13. “Jika tidak ada yang yang memberitahu atau mengajarkan kita mengenai takhayul negatif mengenai tanggal 13, kita mungkin merasa lebih baik,” kata Stuart Vyse, seorang profesor psikologi di Connecticut College di New London.

Orang yang memercayai takhayul Jumat 13, kemungkinan menderita triskaidekaphobia –ketakutan luar biasa terhadap angka 13– dan sering mengutarakan kepercayaannya tersebut kepada keturunannya. Dalam budaya populer, digambarkan seperti kengerian film horor Friday the 13th, yang kisahnya tetap hidup hingga kini.

Takhayul Jumat 13 awalnya bersumber pada keyakinan agama seputar tamu ke-13, Yudas, pada Perjamuan Terakhir. Pada saat itulah Yesus telah dikhianati dan penyalibannya terjadi pada hari Jumat.

Fakta Mengenai Friday The 13th

Angka 13 yang dianggap sebagai angka sial ternyata juga menyebar di luar keyakinan non-Kristen. “Ini meluas ke Euro-Amerika dan tertanam ke dalam budaya,” kata Phillips Stevens, seorang profesor antropologi di University of Buffalo di New York.

Yang lebih menarik, menurut Stevens, adalah mengapa orang mengasosiasikan setiap hari Jumat tanggal 13 dengan nasib buruk. Jawabnya, ada hubungannya dengan apa yang disebut prinsip-prinsip “pemikiran magis” yang ditemukan pada kebudayaan di seluruh dunia.

Seperti kejadian tamu ke-13 yang hadir dalam Perjamuan Terakhir membawa petaka, sehingga apapun yang berhubungan dengan nomor 13 dikaitkan dengan nasib buruk atau kemalangan.

Thomas Fernsler, seorang ilmuwan asosiasi kebijakan di Mathematics and Science Education Resource Center at the University of Delaware, Newark, mengatakan, angka 13 “menderita” karena posisinya setelah angka 12. Menurutnya 12 merupakan angka sempurna, karena biasa digunakan dalam satuan tertentu seperti 12 bulan, 12 zodiak, 12 dewa Olympus, 12 buruh Hercules, 12 suku Israel, dan 12 rasul Yesus.

13

Jumat, tak hanya dikenal sebagai hari penyaliban Yesus, para ahli Al Kitab percaya bahwa Hawa menggoda Adam dengan buah terlarang juga di hari Jumat.

Hingga zaman modern seperti sekarang, masih banyak orang yang mempercayai bahwa Jumat 13 merupakan hari sial. Maka tak sedikit dari mereka menolak untuk melakukan aktivitas perdagangan. Dampaknya sangat terasa pada perekonomian yang terasa semakin melambat.

“Diperkirakan bahwa US$800 hingga US$ 9 juta hilang dalam bisnis pada hari tersebut karena orang tidak akan berpergian atau melakukan bisnis mereka seperti biasanya,” kata Donald Dossey, seorang sejarawan cerita rakyat dan pendiri Manajemen Stress Center dan Phobia Institute di Asheville, North Carolina.

Untuk mengantisipasi rasa takut dan cemas terhadap Jumat 13, maka sebagian orang memilih berdiam diri di rumah dan mempertimbangkan untuk bertemu orang lain di luar.
(John Roach )

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s